KOTAMOBAGU, Discover.co.id – Di balik ramainya MOBAKID Pemuda yang digelar Exposure Community BMR di Kawasan Kuliner Sanpalk, Kotamobagu, Sabtu (31/10/2026) malam, ada satu hal yang paling disorot peserta: empat pemateri yang dihadirkan dengan latar belakang berbeda.
Exposure BMR tidak menghadirkan pemateri yang itu-itu saja. Mereka sengaja mempertemukan empat sudut pandang untuk menjawab tema besar malam itu, “Pemuda Berdaulat, Berintegritas, Beradaptasi di Era Digital”.
1. Refly Setiawan Mamonto – Sudut Pandang Legislatif & Kepemudaan
Anggota DPRD Kota Kotamobagu yang juga Ketua GP Ansor Kotamobagu ini membedah peran pemuda dari sisi kebijakan. Menurut Refly, kedaulatan pemuda tidak hanya soal berani bicara, tetapi berani masuk ke dalam sistem untuk mengubah kebijakan yang tidak berpihak pada pemuda.
2. Awaluddin Umbola, S.Hut., M.A.P. – Sudut Pandang Demokrasi & Integritas
Sebagai Komisioner KPU Sulawesi Utara, Awaluddin membawa isu yang paling relevan di era digital: integritas. Di hadapan peserta yang didominasi mahasiswa dan OKP, ia mengingatkan bahwa pemuda adalah pemilih terbesar, namun juga yang paling rentan diserang hoaks dan politik uang. Integritas pemuda adalah kunci pemilu yang berdaulat.
3. Donal Tungkagi – Sudut Pandang Akademisi
Akademisi sekaligus Direktur The Bolmongraya Institute ini mengajak pemuda BMR untuk adaptif. Menurut Donal, pemuda Bolmong Raya tidak boleh hanya jadi penonton perubahan teknologi. Pemuda harus mampu membaca data, memahami potensi lokal BMR, dan mengubahnya menjadi karya dan ekonomi kreatif.
4. Tyo Mokogow – Sudut Pandang Sejarah & Kebudayaan
Pemerhati sejarah dan kebudayaan BMR ini menjadi penyeimbang. Di tengah arus digital yang serba cepat, Tyo mengingatkan bahwa berdaulat berarti tidak tercerabut dari akar. Nilai-nilai Mongondow seperti Mototompiaan, Mototabian, dan semangat gotong royong harus menjadi filter dalam beradaptasi di era digital.
Kombinasi empat pemateri inilah yang membuat diskusi MOBAKID Pemuda di Sanpalk tidak monoton. Dari legislatif, penyelenggara pemilu, akademisi, hingga budayawan, semua bertemu dalam satu panggung yang dibuat Exposure BMR.
Ketua Exposure Community BMR Nasir Ganggai, S.Pd., mengatakan pemilihan empat pemateri ini memang disengaja.
“Kami ingin pemuda BMR melihat masa depan dari 4 kacamata sekaligus. Ada politik, ada demokrasi, ada ilmu pengetahuan, dan ada budaya. Kalau 4 ini jalan bersama, baru pemuda bisa benar-benar berdaulat,” ujar Nasir.
Acara yang dihadiri Wali Kota Kotamobagu dr. Weny Gaib, Kapolres AKBP Abdul Kholik, Ketua TP PKK Rindah Gaib Mokoginta, Sekda Sofyan Mokoginta., Koordinator Staff Khusus Wali kota Kotamobagu Widdy Mokoginta, S.Sos., Ketua PW GP Ansor Sulut Hamri Mokoagow, Anggota DPRD Dani Ikbal Mokoginta., Jajaran OPD., Ormas serta OKP di Kotamobagu. agenda ini pun ditutup dengan penampilan musik lokal BMR oleh Vicky Mokoagow dari BRAGA BAND dan penampilan budaya dari Sanggar Abo Tadohe.
Melalui MOBAKID Pemuda, Exposure BMR berharap diskusi seperti ini tidak berhenti di Sanpalk saja, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan untuk melahirkan pemikiran baru bagi kemajuan Bolaang Mongondow Raya. ***








